What about 'Navigasi'  

Oleh M. Akbar Fitriyan, Hs

Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas.
Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi
1. Pembacaan peta
2. Penggunaan kompas
3. Penggunaan tanda‑tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah
Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba belantara. Untuk itu memerlukan alat‑alat seperti
1. Peta topografi
2. Penggaris
3. Kompas
4. Konektor
5. Busur derajat
6. Altimeter
7. Pensil



PETA TOPOGRAFI

Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam bebas adalah Pete Topografi.

Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis‑Garis Kontur.


Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:

1. Judul Peta

Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.

2. Keterangan Pembuatan

Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.

3. Nomor Peta (Indeks Peta)

Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.

4. Pembagian Lembar Peta

Adalah penjelasan nomor‑nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.

5. Sistem Koordinat

Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:

a. Koordinat Geografis

Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.

b. Koordinat Grid

Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.

c. Koordinat Lokal

Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis‑garis faring seperti grid pada peta.

Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.

Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain‑lain.

6. Skala Peta

Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan

JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN

Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).

Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.

7. Orientasi Arah Utara

Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada

satu garis. Tiga arah utara tersebut adalah:

a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu

utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.

b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar

dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.

e. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah

separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.

Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi

penyimpangan‑penyimpangan sudut, antara lain:

a. Penyimpangan sudut antara US ‑ UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah

Utara Sebenarnya (US).

b. Penyimpangan sudut antara US ‑ UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).

c. Penyirnpangan sudut antara UP ‑ UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta‑Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71′).

Dengan diagram sudut digambarkan
US UP UM




TRUE NORTH MAGNETIS NORTH


8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian

Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.

Sifat‑sifat garis kontur, yaitu’.

a. Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu

sama lain dan tidak akan bercabang.

b. Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.

c. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama

d. Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.

e. Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.

f. Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.

9. Titik Triangulasi

Selain dari garis‑garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam‑macam titik triangulasi

a. Titik Primer, I’. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120

b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340

c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975

d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875

e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670

f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202

g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993

10. Legenda Peta

Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting

untuk dipahami antara lain:

a. Titik ketinggian

b. Jalan setapak

c. Garis batas wilayah

d. Jalan raya

e. Pemukiman

f. Air

g. Kuburan

h. Dan Lain‑Lain

MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI

A. MEMBACA GARIS KONTUR

1. Punggungan Gunung

Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U, dimana Ujung dari huruf U menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih pendek dari kontur di atasnya.

2. Lembah atau Sungai

Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung yang tajam.

3. Daerah landai datar dan terjal curam

Daerah datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.

B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR

Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408‑244/JICA TOKYO‑1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:

1. Carl dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.

2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).

3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.

4. Bagilah selisih ketinggian antara A ‑ B dengan jumlah kontur antara A ‑ B, hasilnya adalah Interval Kontur.

C. UTARA PETA

Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama‑tama carilah arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.

D. MENGENAL TANDA MEDAN

Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan

orientasi harus juga digunakan bentuk‑bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:

1. Lembah antara dua puncak

2. Lembah yang curam

3. Persimpangan jalan atau Ujung desa

4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak

5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain‑lain.

Untuk daerah yang datar dapat digunakan‑.

1. Persimpangan jalan

2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain‑lain.

E. MENGGUNAKAN PETA

Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah

tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:

1. Koordinat titik awal (A)

2. Koordinat titik tujuan (B)

3. Sudut peta antara A ‑ B

4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A ‑ B

5. Berapa panjang lintasan antara A ‑ B dan berapa kira‑kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A ‑B.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah

+ Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.

+ Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.

+ Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.

+ Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.

+ Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.

+ Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain‑lainnya.

+ Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.

F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA

Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah‑langkah yang harus dilakukan adalah :

a. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).

b. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A ‑ T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ ‑360°) searah putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.

c. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok‑kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.

Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor‑faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :

+ Kemiringan lereng + Panjang lintasan

+ Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).

+ Keadaan cuaca rata‑rata.

+ Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).

+ Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

G. MEMBACA KOORDINAT

Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:

1. Cara Koordinat Peta

Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukkan koordinat ini menggunakan

a. Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461) b. Cara Delapan Angka Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)

2. Cara Koordinat Geografis

Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 4$’ 27,79″. Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

H. SUDUT PETA

Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.

Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° ‑ 360°). Sistem Azimuth

adalah sistem yang menggunakan sudut‑sudut mendatar yang besarnya dihitung

atau diukur sesuai dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah‑arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.

Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya

AZIMUTH : SUDUT KOMPAS

BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas < 1080 =" 37,1" km =" 3.710.000" 000 =" 74,2" 1 =" 1.855.000" cm =" 18,55" timur =" 46°" i =" 15″" 1 =" 13″" jakarta =" 15″" timur =" 15°" lbd =" 47" lbd =" 41" 3 =" 47t’" 3 =" 40°" 20 =" 1,617," 62 =" 1′" 62 =" 25,92″" 20 =" 0,808," mm =" (46" 60 =" 1" mm =" (16" 60 =" 25,87″" 62 =" 46" 62 =" 16")

Baca Selengkapnya..

Pesan Terakhir Bapak Lord Baden Powell  

Oleh M. Akbar Fitriyan, Hs


Pramuka-pramuka yang kucinta, Jika kamu pernah melihat sandiwara Peter Pan, maka kamu akan melihat mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum meninggal, karena ia takut, kalau-kalau tidak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba. Demikian halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum meninggal, namun saat itu akan tiba juga bagiku. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri, Ingatlah, ini adalah pesanku yang terakhir bagimu.
Oleh karena itu, renungkanlah !

Pandu-pandu sedunia yang tercinta! Sebelum akhir hayatku kian mendekat, tak ada salahnya aku berpesan kepada kalian sebagai tanda perpisahan dariku untuk selama-lamanya sebelum meninggalkan semuanya....

Ini merupakan pesanku yang terakhir, camkanlah baik-baik dalam hatimu. Cita-citaku sebagian sudah tercapai sehingga dapat dipetik hasilnya. Sebagian lagi yang belum tercapai mudah-mudahan oleh kalian bisa diteruskan sehingga bisa bermanfaat buat hidupmu.

Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jika kalian meneliti alam sekeliling ciptaan Tuhan, niscaya akan menyadari bahwa sesungguhnya hidup ini penuh dengan keajaiban yang dapat menimbulkan kebaikan dan keindahan bagi kita. Lebih baik kita mengamati dan menikmati segala macam yang kita anggap baik dan indah daripada kita selalu mencari-cari hal yang jelek.

Keinginan tiada lain, berusahalah kalian agar kelak bila saatnya tiba untuk mengembuskan napas terakhir harus dalam keadaan bahagia dan puas. Oleh karena itu, selama hidup di dunia gunakanlah waktumu sebaik-baiknya. Berikhtiarlah terus dengan penuh optimistis untuk mencari kebahagiaan di atas dunia ini.

Itu semua sudah tercantum dalam pegangan hidup kita berupa Janji Pandu (Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka). Sekali kita mengucapkan Sumpah Setya, maka seumur hidup akan tetap seorang pandu.

Tuhan akan memberikan perlindunganNya bila kita senantiasa berusaha dengan niat suci dan ikhlas. Salam terakhir dari sahabatmu,


Baca Selengkapnya..

Gunungapi Lumpur Sidoarjo: Bencana Alam yang disebabkan ulah manusia?  

Oleh M. Akbar Fitriyan, Hs



Kasus terjadinya semburan lumpur panas di Sidoarjo sehubungan dengan pemboran Banjar Panji-1 oleh PT Lapindo Brantas merupakan suatu kasus yang menarik untuk disimak sesuai dengan kategori-kategori bencana yang saya sebut di atas. Yang menarik disini adalah bahwa para ahli geologi menilai bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo ini mempunyai sifat-sifat geologi yang sesuai dengan apa yang disebutnya sebagai gunung api lumpur (mudvolcano) yang memang banyak terdapat di sekitar utara Jawa Timur ini (G. Anyar, Bledug Kuwu dst), yang merupakan cekungan minyak Jawa Tumur Utara (Northeast Java Basin). Bahkan data bawah permukaan (hasil survey seismik) menunjukkan bahwa memang perlapisan batuan di bawah daerah Sidoarjo berada dalam tekanan berlebihan (overpressure shales) yang rawan terjadinya penerobosan lempung berair (shale intrusion) salah satu penyebab terjadinya gunungapi lumpur (mud-volcano). Dengan demikian kebanyakan para ahli geologi sebagaimana saya pantau dari mailing list IAGI-net dan juga para staf pengajar di Progam Studi Teknik Geologi ITB (yang praktis semuanya adalah bekas mahasiswa saya) berpendapat bahwa semburan lumpur panas ini merupakan gejala alam dan cenderung tidak mengkaitkan dengan pemboran Banjar Panji-1 dari PT Lapindo Brantas, sehingga murni merupakan bencana alam, sehingga yakin tidak mungkin dihentikan dengan upaya manusia. Hal ini dipertegas lagi oleh suatu seminar yang diselenggarakan oleh ASPERMIGAS (Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi) beberapa yang lalu yang konon dihadiri para ahi geologi dan geofisikia) yang menyimpulkan bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo adalah murni gejala alam dan harus dinyatakan sebagai bencana alam.



Di lain pihak para ahli teknik pemboran yang pernah saya hubungi antara lain Dr. Ir. Rudy Rubiandini (anggota Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur panas) in serta rekan-rekannya di Program Studi Teknik Perminyakan ITB juga sangat berkeyakinan bahwa penyebab semburan lumpur panas ini adalah kegagalan operasi pemboran dalam menanggulangi blow-out (kick) yang terjadi dari Fm Kujung yang berada pada kedalaman 9297 kaki (yang merupakan objektif pemboran bagi cadangan minyak dan gasbumi), serta belum sempat terpasangnya selubung pengaman (casing) pada trayek lubang bor yang sangat panjang. Dengan demikian air formasi dari Fm Kujung yang bertekanan tinggi serta bertemperatur sekitar 120 sampai 160 derajat Celcius ini naik ke atas melalui lubang bor dan pada kedalaman yang dangkal terhalang oleh sumbat semen dan casing yang sudah terpasang, dan masih mempunyai tekanan yang melebihi kekuatan lapisan batuan yang ada di atasnya sehingga terjadi retakan di luar lubang bor dan menyemburkan lumpur panas yang beruap. Dengan demikian semburan lumpur panas ini masih bisa dihentikan dengan relief well dengan menyumbat sumber airnya.

Berdasarkan yang saya pelajari dari presentasi (.ppt files) yang pernah diberikan Dr. Ir, Rudy Rubiandini (2 presentasi) juga dari Ir. Bambang Istadi (Exploration Manager PT Lapindo Brantas, 4 kali presentasi), saya simpulkan bahwa memang melihat dari gejala-gejala lapangan yang diamati (saya sendiri belum pernah mengamatinya secara langsung), semburan lumpur panas ini mempunyai ciri-ciri yang khas menunjukkan gejala gunungapi lumpur (mudvolcano), sehingga dapat dikatakan sebagai gejala alam. Namun dari urut-urutan kejadian pada waktu pemboran menjelang terjadinya semburan lumpur panas liar, dapat dipastikan bahwa kegagalan operasi pemboran ini adalah penyebab, atau paling tidak pemicu, dari terjadinya gunungapi lumpur ini. Secara teoritis penjelasan ini sangat didukung. Semburan lumpur panas ini mengandung lebih banyak air dan uap daripada gunungapi lumpur yang lumrah, sehingga dapat dipastikan kebanyakan air in berasal dari Fm Kujung atau lapisan yang di atasnya, sedangkan lumpurnya (bahan padatnya) adalah hasil gerusan/erosi oleh aliran air panas ini pada lapisan yang bertekanan tinggi yang rawan akan pembentukan gunungapi lumpur itu (sebagai mana dipastikan dan hasil analisa fosil pada lumpur). Dengan demikian semburan lumpur panas Sidoarjo ini dapat dikategorikan sebagai Bencana Alam yang disebabkan/dipicu oleh ulah manusia.

Mengingat fenomena keluarnya air-panas ini tidak begitu saja bisa mati sendirinya dalam waktu yang dekat, maka usaha untuk mematikan harus terus dulakukan, walaupun penuh kesulitan di permukaan karena tempat bekerja di permukaan selalu dirongrong dengan naiknya permukaan lumpur.
Kita berharap semua, semoga para ahli yang sedang bahu-membahu untuk mematikan semburan yang menyengsarakan rakyat Sidoarjo itu diberikan keteguhan hati, kemampuan dan keberhasilan dari Alloh Swt. . . Amin.


Baca Selengkapnya..

Bencana Alam vs Ulah Manusia  

Oleh M. Akbar Fitriyan, Hs



Dewasa ini Indonesia dilanda berbagai bencana alam yang dahsyat secara bertubi-tubi yang telah banyak memakan korban dan telah banyak menyengsarakan rakyat negeri ini. Dari mulai gempa bumi dengan tsunami yang dasyat di Aceh, gempa di Jogyakarta dan di tempat2 lain seperti di Nabire (Papua) dan tsunami di Pangandaran, erupsi gunung api, sampai longsor dan banjir di mana-mana. Orang pun bertanya-tanya apakah bencana alam ini disebabkan ulah manusia, pengelolaan lingkungan yang tidak benar sehingga menimbulkan banjir yang hebat seperti halnya di Aceh dan di Sumatra Utara serta daerah-daerah lainnya. Pada umumnya mass media cenderung untuk selalu menjadikan ulah manusia yang serakah sebagai penyebab dari malapetaka ini, pembalakan dan penggundulan hutan yang menyebabkan banjir besar dan longsor di mana-mana. Hal ini tentu berdasarkan atas asumsi bahwa alam pada dasarnya adalah ramah lingkungan, manusialah yang menyebabkan malapetaka. Dari segi agama hal ini ada dasarnya. Sejak agama-agama terdahulu seperti di Yunani kuno maupun di Hindu kuno walaupun dalam Kitab Injil maupun Al Qur'an selalu disebutkan Tuhan menurunkan azabnya dalam bentuk bencana jika manusia di tempat tertentu sudah tidak berahlak lagi. Dari segi ilmiah murni yang bersifat empiris tentu juga mencari penyebab dari bencana alam pada proses alamnya sendiri, selain tentu juga melihat sampai di mana ulah manusia dapat menyebabkan bencana. Kecenderungan sekarang ini para ahli memang adalah bahwa ulah manusia telah merubah tatanan lingkungan global, seperti emisi CO2 yang menyebabkan global warming yang disertai penyusutan tudung es di kutub serta naiknya muka air laut, bolongnya lapisan ozon dsb.



Kalau kita simak dari berita-berita di mass media sebetulnya bencana alam yang bertubi-tubi ini tidak hanya terbatas pada Indonesia saja, tetapi hampir di seluruh dunia, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun, seperti badai Katrina. Kita hampir luput memperhatikan bahwa banjir besar serta longsor sering melanda hampir seluruh dunia pada waktu yang berbeda seperti di Malaysia, Bangladesh, Cina, Jepang, negara-negara Amerika Selatan bahkan di negara-negara Eropa atau di Amerika Serikat sekalipun, di negara-negara maju dengan pengaturan serta pengawasan lingkungan yang sangat ketat. Juga gempa bumi dan erupsi gunung api tidak di monopoli Indonesia saja.

Dari segi ilmu geologi, khususnya geologi sejarah, bencana alam seperti letusan gunung api, banjir dan longsor sudah sering terjadi sebelum manusia ada, bahkan sejak milyardan tahuh yang lalu, sebagaimana para ahli geologi dapat membaca dan menafsirkannya dari rekaman dalam berbagai lapisan batuan dari berbagai umur yang didukung oleh penelitian isotop. Dengan demikian banjir dan longsor tidak harus selalu disebabkan oleh ulah manusia, tetapi pada umumnya merupakan proses alamiah yang dalam prinsip ilmu geologi disebut sebagai bagian dari proses denudasi (proses pengarataan muka bumi). Juga dari rekaman dalam batuan itu para ahli geologi dapat membaca bahwa iklim serta lingkungan hidup di bumi ini tidak selalu sama seperti sekarang, tetapi selalu berubah-rubah, bahkan boleh jadi bersifat siklis (cyclic), seperti halnya terjadinya Zaman Es yang berakhir sekitar beberapa puluh ribu tahun yang lalu. Sejarah geologi bumi mengenal banyak zaman-zaman lainnya di mana iklim dan lingkungan hidup sama sekali berbeda dari zaman sekarang dengan penyebab alami, seperti letusan gunung api bertubi-tubi, perubahan inklinasi sumbu putar bumi, bahkan juga oleh jatuhnya benda langit yang besar seperti terjadi 65 juta tahun yang lalu yang menyebabkan punahnya jenis binatang Dinosaurus. Perubahan lingkungan ini dapat terjadi tiba-tiba maun berangsur-angsur yang mengakibatkan kepunahan jenis-jenis binatang tertentu dan munculnya spesies baru.

Baca Selengkapnya..

Mengapa Begitu Banyak Bencana Di Indonesia ?  

Oleh M. Akbar Fitriyan, Hs


Beberapa tahun belakangan, Indonesia memang sedang diguncang berbagai bencana alam hampir di seantero negeri, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus, dan masih banyak lagi. Beragam teori diajukan untuk dijadikan penyebab lahirnya bencana tersebut, mulai dari penggundulan hutan, penyalahgunaan lahan, sampai global warming.

Charles Cohen dan Eric Werker dari Harvard Business School menulis sebuah paper menarik berjudul The Political Economy of “Natural” Disasters. Mereka berpendapat bahwa bencana alam cenderung terjadi lebih sering dan beragam pada negara miskin yang dikelola dengan sistem politik yang buruk. Sejauh mana intervensi politik yang terjadi ternyata juga memengaruhi intensitas bencana alam tersebut.


Pemerintah, menurut Cohen dan Werker, dapat melakukan distribusi kekuatan politik melalui pembelanjaan untuk menangani bencana alam. Pemerintah yang tak punya pendanaan bagus akan terkena racket effect, yaitu secara sengaja memanipulasi populasi korban untuk menarik (dan juga mencuri) bantuan dari luar. Yang menarik, lembaga donor internasional juga sudah “biasa” memberi toleransi atas susutnya bantuan tersebut. Hal ini memicu desperation effect, di mana pemerintahan yang korup punya kemampuan lebih untuk menggandakan “penyusutan” tersebut.

Secara umum, pemerintah dapat menangani atau mencegah bencana alam dengan menggunakan sumber anggaran yang dialokasikan khusus maupun dari sumber pendapatan yang sedianya dialokasikan untuk keperluan lain—-plus sumber-sumber eksternal. Cohen dan Werker ternyata menemukan adanya bias dalam pembelanjaan dana yang bersumber dari anggaran sendiri dibandingkan dari anggaran lain. Semakin banyak pemerintah menggunakan dana dari anggaran sendiri dan tidak mengambil dana dari sumber lain, bencana alam yang terjadi lebih sedikit.

Cohen dan Werker mencontohkan Libya di bawah Muammar Al Qadhafi sejak tahun 1969 hanya mengalami satu bencana alam yang membawa kerugian $42 juta namun tidak menewaskan satu korban pun. Sementara itu Aljazair mengalami 58 bencana alam yang menewaskan hampir 7 ribu jiwa dengan kerugian $10,6 milyar. Mereka juga mencontohkan rezim Apartheid di Afrika Selatan yang menelan korban 1,2 juta jiwa antara tahun 1962 hingga 1989. Namun setelah rezim tumbang, antara tahun 1990 hingga 2002 korban yang timbul “hanya” 95 ribu jiwa. Artinya, penghapusan kasta dan sistem politik yang lebih baik ternyata mengurangi kematian hingga 90%.

Sejak tahun 1900, bencana alam telah menewaskan lebih dari 62 juta orang. Sekitar 85% di antaranya terjadi antara tahun 1900 dan 1950—-dipicu juga oleh peperangan, wabah penyakit, maupun kelaparan. Namun sejak tahun 1990 terjadi peningkatan dimana lebih dari 1 juta orang meninggal dalam bencana alam. Pada tahun 2005, Palang Merah Internasional mencatat negara-negara yang mengalami banyak bencana alam antara lain Kosta Rika, El Savador, Guatemala, India, Meksiko, Nikaragua, Pakistan, Paraguay, Republik Afrika Tengah, Romania, Sudan, dan tentu saja, Indonesia.

Tapi ternyata, fenomena ini sudah tertulis sejak lama dalam Al Qur’an. Secara lebih luas dan gamblang dituliskan dalam QS An-Nisaa 79 bahwa, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Artinya, hal-hal yang tidak “enak” yang kita rasakan—-termasuk di antaranya bencana alam—-tak lain adalah disebabkan oleh diri kita sendiri. Kalau di Indonesia terjadi begitu banyak bencana, kemungkinan memang disebabkan oleh orang Indonesia itu sendiri.

Kalau boleh berpendapat, barangkali bencana ini “lumrah.” Situasi politik dan sosial di Indonesia memang sedang carut marut. Tiap hari kita menyaksikan pemilihan kepala daerah yang saling rebutan kekuasaan. Tiap hari selalu ada berita pencurian, perampokan, sampai korupsi kelas kakap. Kita juga lazim menyimak seorang ayah yang tega memerkosa putrinya sendiri. Sementara itu di jalanan, orang saling serodok seenak perutnya. Tawuran massal dan demo yang menjurus pada aksi anarkis juga sering kita jumpai. Orang saling hujat dan menjelek-jelekkan satu sama lain sudah jadi hal yang biasa.

Baca Selengkapnya..